Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

AKIBAT KUFUR NIKMAT



Di suatu padang rumput, terdengar bunyi seruling meliuk-liuk, kadang gembira, kadang menyayat-nyayat. Peniupnya adalah seorang pemuda kekar berkepala botak, sambil membayangkan dirinya bagaikan bintang film India yang gagah, bercambang dan berkumis. Tak jauh dari situ duduklah seorang pemuda berkulit belang di sekujur tubuhnya. Bersandar di bawah pohon sambil melamun dirinya tampan,bertelanjang dada dengan kulit yang bersinar. Sementara itu orang yang buta matanya berdiri mondar mandir disekitar situ, dengan membawa tongkat kesayangannya.
Mereka adalah tiga sahabat yang diberi cobaan oleh Allah dalam hidupnya, si Botak, si Belang, dan si Buta, menjadi julukan meraka. Banyak orang yang mencibir bahkan membuang muka bila berpapasan dengan mereka. Anak anak kecil yang nakal sering mengolok-ngolok bahkan melempari batu kepada mereka. Masyarakat disitu memang tidak ambil peduli dengan perlakuan anak nakal itu, karena mereka mengganggap ketiga pemuda itu memang pantas diperlakukan seperti itu.
Namun Allah tetap sayang pada mereka. Buktinya mereka tetap bertahan hidup, tetap mendapat makanan walaupun tidak memadai. Bahkan Allah senang melihat mereka, dalam keadaan kurang beruntung, mereka tetap mempertahankan keimanannya. Hingga suatu ketika Allah hendak menguji keimanan mereka.
Diutuslah seorang malaikat yang berubah wujud menjadi seorang laki-laki yang tampan, mendatangi rumah si Belang. Sungguh terkejut si Belang, ia terpesona melihat tamunya itu. Si Belang mempersilahkan tamunya masuk. Di dalam, mereka berbincang-bincang sebentar. Ketika hendak pulang, tamu itu menyampaikan terima kasih dan bertanya pada si Belang, “Apa yang kau inginkan dalam hidup ini?” si Belang spontan menjawab, aku ingin wajah dan kulit cemerlang seperti tuan, sehingga orang-orang tidak lagi jijik lagi melihatku”. Lalu tamu itu mengusap tubuh si Belang. Keajaiban pun terjadi, kulit si Belang berlahan-lahan berubah menjadi bersih cemerlang, kulitnya yang kisutpun mengencang.
Ia mencubiti badanya seolah tidak percaya dengan yang terjadi pada dirinya,”Betul! Betul! Tidak mimpi!”.
Lau apa lagi yang kau inginkan dalam hidup ini ?” tanya tamu itu lagi.
“Oh eh... mmm..aku ingin memiliki onta,” jawab si Belang dengan malu-malu.
Tamu itu lalu menepuk bahu si Belang,”Pergilah ke belakang rumahmu”. Disana telah menunggu seekor onta yang bisa kau ternakkan. Semoga Allah memberi Barokah padamu dan ontamu.
“Si Belang berlari menuju kebelakang rumahnya. Dilihatnya seekor onta yang gemuk. “Unta gemuk!...Oh perutnya, perutnya bunting. Terima kasih tuan!” dicarinya tamu itu, tapi sudah tidak ada, sebab tamu penjelmaan malaikat itu sudah menuju rumah si Botak.
Sesampainya disana, si Botak mempersilahkan masuk. Mereka pun berbincang-bincang sebentar. Ketika hendak pulang tamu itu bertanya pada si Botak, “Apa yang kau inginkan dalam hidup ini?” si Botak menjawab, “Andai kepalaku ini ditumbuhi rambut, betapa senangnya aku. “Lalu tamu itu mengusap kepala si Botak. Perlahan-lahan kepalanya ditumbuhi rambut helai demi helai hingga semakin lama semakin lebat. Si Botak terkesima,”Ajaib!Hebat!” ditarik-tarik rambutnya Hehehe...aku harus beli sisir nih...hihihi”
Sebelum pergi tamu itu kembali bertanya, ”Apalagi yang kau inginkan dalam hidup ini?”
Si Botak menjawab,”Aku ingin....seekor sapi yang dapat aku ternakan”
“Sekarang dengarlah apa yang berbunyi dibelakang rumahmu! Semoga Allah memberi barokah padamu dan sapimu”
Si Botak langsung menghambur kebelakang,”Horee... aku punya sapi! Horeee...sekarang aku kayaaa...” ia tidak mempedulikan tamunya yang diam-diam sudah pergi menuju rumah si Buta.
Apa yang terjadi dirumah si Buta hampir sama dengan kejadian dirumah kedua sahabatnya terdahulu. Hanya saja ketika tamu itu bertanya tentang keinginan, si Buta menjawabnya, “Aku ingin sekali Allah mengembalikan kedua mataku, sehingga aku dapat melihat indahnya pemandangan di dunia ini.”
Sang tamu mengusap mata si buta, perlahan-lahan penglihatan si Buta melihat remang-remang, makin lama makin jernih,”Sungguhkan yang terjadi ini? Mimpikah saya?”
“Allah telah mengabulkan keinginanmu. Sekarang apalagi yang kau inginkan?”
“Yang kuinginkan? Bisa melihat saja bagiku sudah merupakan suatu pemberian yang tada taranya. Tapi baiklah aku hanya ingin berternak kambing,”
“Lihatlah kebelakang rumahmu, Allah telah memberikan apa yang kau inginkan. Semoga Allah memberi barokah padamu dan kambingmu.”Lalu tamu itu menghilang begitu saja.

BABAK BARU TELAH DIMULAI.
Kehidupan si Belang, si Buta, si Botak makin membaik. Usaha mereka maju pesat. Jumlah ternak yang mereka miliki kian bertambah hingga ribuan jumlahnya. Kini mereka sudah menjadi orang terpandang. Bertahun-tahun mereka menikmati kebahagiaan. Allah pun senang melihat mereka. Kini tibalah ujian berikutnya. Allah ingin menguji seberapa tinggi keikhlasan, kejujuran, keluhuran budi dan keimanan mereka. Allah kembali mengutus malaikatnya yang mendatangi ketiga bersahabat tersebut.
Malaikat itu berubah menjadi orang tua lusuh, berkulit belang, lalu mengetuk pintu rumah si belang. Setelah pintu dibuka, orang tua renta itu memohon, “Wahai tuan yang baik. Saya lapar, sudilah kiranya tuan memberi makanan dan uang untuk meneruskan perjalanan saya ...”
Si Belang menjawab dengan kasar, “Apa? Minta makanan dan Uang? Enak saja! Aku tidak akan memberikan hartaku pada sembarang orang, apalagi orang tua belang sepertimu! Kebutuhanku masih banyak,tahu!”
“Tuan. Bukankah dulu tuan miskin dan berpenyakit seperti saya? Masih ingatkah, bahwa Allah telah menolong tuan dan memberikan rizqi hingga tuan menjadi sekarang ini?”
“Betul dulu aku memang sakit seperti kamu pak tua, tapi sekarang aku sudah sembuh dan menjadi orang terhormat. Dan semua kekayaan berasal dari warisan yang kuperoleh dari nenek moyangku. Sekarang pergilah jauh-jauh. Melihat tampangmu hanya membuat aku teringat masa lalu. Aku tak suka!”
“Baiklah, kalau memang tuan berkata dusta kepada saya bahwa semua kekayaan yang di berikan kepada tuan bukan dari Allah, maka tuan akan kembali seperti semula!”
Malaikat pergi meninggalkan si Belang menuju rumah si Botak. Ia berubah wujud menjadi orang tua lusuh berkepala botak. Lalu ia merintih-rintih di depan pintu pagar rumah si Botak. “Tuan, saya lapar sekali, kepala saya pusing. Kasihinilah saya”
“Hei, kepalamu pusing bukan karena belum makan, tapi karena tak berambut. Aku tidak punya makanan untuk orang sepertimu! Masih banyak kebutuhan yang belum aku penuhi!”
“Tuan. Kata orang, dulu anda tak berambut dan miskin seperti saya, mengapa Tuan lupa akan nikmat yang telah dianugrahkan oleh Allah?”
“Hahaha... betul! Dulu aku memang botak. Aku bisa sembuh seperti sekarang karena rajin mengolesi kepalaku dengan berbagai ramuan obat, dan aku bisa kaya karena aku seorang pewaris tunggal keluargaku!”
“Baiklah. Kalau memang tuan tidak menyakini kebesaran Allah, maka Tuan akan kembali seperti semula!”
“Sungguh kasihan kau orang tua. Kalau kau anggap kesembuhan dan kekayaanku ini dari Allah. Mengapa kau tidak minta saja dari Allah?Nyatanya, kau tetap miskin dan Botak sampai tua!”
Pengemis botak itu lalu pergi dan berubah wujud menjadi orang tua yang buta. Sesampainya disana, ”Wahai Tuan. Bolehkah saya menumpang istirahat sebentar? Saya lelah sekali. Tongkat saya menyentuh pagar rumah anda saya pikir di dekatnya tentu ada rumah.”
“Ah tentu saja pak. Mari! Mari! Kubimbing anda menuju ruang tamu.” Si buta mendudukkan Tamu itu di sofa, lalu melanjutkan pembicaraannya.”Pak, tahukah bapak bahwa akupun dulu buta seperti bapak. Namun Allah telah memberi karunia kepadaku. Aku bisa melihat, rupaku tampan, kekayaanku melimpah, keluargaku hidup sejahtera. Itu berkat doa seseorang yang tak aku kenal yang pernah mengunjungiku . Aku dulu tidak punya apa apa. Setiap melihat nasib dan kekayaanku, aku selalu ingat bahwa semua itu adalah pemberian Allah. Aku lebih senang bila aku dapat membagikan sebagian kebahagiaanku pada orang yang kurang beruntung seperti bapak.”
“Dengarlah wahai Tuan yang baik hati. Bahwa orang yang dulu mengunjungi mendoakan Tuan adalah saya. Saya adalah Malaikat utusan Allah. Berbahagialah engkau! Kau telah lulus ujian dari Allah. Hanya yang berperasaan halus dan berbudi sesamanya yang dapat merasakan kehadiran Allah dikehidupannya. Tidak seperti kedua sahabatmu yang mengingkari kenikmatan dan kesenangan yang telah diberikan Allah. Mereka menjadi kikir dan sombong dan tidak tahu berterima kasih . Perangainya menjadi kasar. Aku telah berkunjung pada mereka, tetapi aku di hina dan diusir. Lihatlah nasib mereka. Kaulah yang paling beruntung, karena kenikmatan duniawi tidak mencengkram hatimu. Seiring dengan perkataannya, Malaikatpun sirna dari hadapan si Buta.
Tiba-tiba datanglah kedua sahabatnya sambil meraung-raung menyesali nasib mereka. Mereka telah kembali menjadi si Belang yang lusuh dan si botak yang miskin. Tidak sehelaipun rambut tumbuh dikepalanya si Botak. Sambil memeluk keduanya si Buta hanya bisa menghibur, sudahlah minta ampun dan bertaubatlah kepada Allah. Allah pasti berkenan dan membuka pintu maaf-Nya. Semua kekayaan, kesejahteraan, karunia, adalah milik Allah. Kita tidak punya hak apa apa kecuali atas idzin Allah .”

KEDURHAKAAN KORUN

Negeri Mesir yang terkenal subur dan makmur dengan tingkat peradaban yang tinggi itu ternyata telah di kotori oleh perilaku dan keyakinan penduduknya yang menyimpang dari ajaran tauhid. Tuhan yang semestinya mereka sembah adalah Alloh, tetapi ternyata mereka telah menjadikan Fir’aun sang raja Mesir sebagai sesembahan mereka.
Alloh telah mengutus Nabi Musa untuk memerangi dan memberantas kemusyrikan di muka bumi. Perjuangan Nabi Musa menegakan panji-panji tauhid di tengah-tengah masyarakat Bani Israil yang terkenal ‘rewel’’ dan suka beralasan memang cukup berat. Namun Nabi Musa tidak putus asa. Satu demi satu pengikut Nabi Musa bertambah, sampai suatu ketika seorang kaya raya terpandang di kalangan Bani Israil juga menjadi pengikut Nabi Musa. Dia adalah Qorun anak paman Nabi Musa . Dengan insafnya Qorun diharapkan dapat memperkuat dan mendukung perjuangan Nabi Musa bersama para pengikutnya. Namun yang diharapkan hanyalah impian belaka . Kekayan Qorun luar biasa, hingga kunci–kunci gedung tempat penyimpanan kekayaan tidak akan kuat dipukul oleh beberapa laki-laki yang kuat sekalipun. Ironisnya kekayaan itu telah membuat Qorun bersikap angkuh sehingga sulit baginya untuk menerima nasehat. Dalam dirinya terjadi perubahan kearah penurunan keimanan, hilang sifat –sifat orang iman dalam dirinya, hilang kekhusyu’an hatinya. Ia mulai malas beribadah, sehari-hari yang dipikirkan hanyalah menimbun keduniaan.
Jika Qorun keluar selalu dihiasi dengan pesona dunia yang gemerlapan. Dengan menunggang seekor kuda yang pelananya terbuat dari kulit bertahtahkan emas dan perak. Baju yang ia kenakan emas berlian, sungguh ia sangat gagah. Pemandangan seperti itu sangat memukau bagi orang-orang yang mencintai dunia, tetapi bagi orang-orang yang lebih mencintai akhirot akan memandang bahwa kekayaan Qorun tidak berarti sedikitpun di sisi Alloh.
Hingga pada suatu ketika, Alloh menurunkan ayat tentang zakat kepada Nabi Musa. Saat itu Qorun berniat menemui Nabi Musa untuk minta penjelasan tentang ayat tersebut. Akhirnya Nabi Musa menjelaskan perincian-perincian zakat di hadapan Qorun.
“Setiap 1000 dinar zakatnya 1 dinar, setiap 1000 dirham zakatnya 1 dirham, setiap 1000 kambing zakatnya 1 kambing, begitulah seharusnya terhadap harta yang engkau miliki.”
“Baiklah Musa, sekarang aku sudah mengerti masalah zakat, tapi aku akan mencoba menghitung dulu hartaku, Terima kasih, aku pamit dulu.”
Qorun mulai menghitung hartanya. Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah zakat yang harus dikeluarkan banyak sekali sehingga Qorun merasa berat untuk menyerahkan zakatnya kepada Nabi Musa.
“Wah, ternyata aku harus mengeluarkan ribuan dinar dan dirham, kalau begini caranya aku bisa bangkrut! Musa harus memberi penjelasan. Ini tidak bisa diteruskan.”
Qorun berfikir keras untuk dapat menjatuhkan wibawa Nabi Musa di depan pengikutnya. Secara diam-diam Qorun mengundang pembesar-pembesar Bani Israil ke rumahnya. Mereka dihasut untuk diajak bersama-sama menjatuhkan Nabi Musa.
“Wahai orang Bani Israil, sesungguhnya Musa telah memerintahkan pada kalian berbagai peraturan agama diantaranya ialah kalian diperintahkan untuk membayar zakat padanya. Tahukah kalian bahwa ini taktik Musa untuk merampas harta kalian semua. Kemudian harta zakat itu akan dipergunakan untuk kebutuhan sehari-harinya, berfoya-foya, cari hiburan dan lain-lain, ini adalah pemerasan secara halus dan terang-terangan, apa kalian tidak sadar kalau kalian dijadikan sapi perahan Musa? Bagaimana menurut kalian?”
“Hai Qorun, engkau adalah pembesar kami, rasanya benar omonganmu itu, sekarang perintahkan sesuatu kepada kami, kami pasti akan melaksanakan.”
“Kalau begitu carilah seorang pelacur, nanti kita beri upah asalkan dia mau mengaku di depan umum bahwa dia telah berzina dengan Musa.”
Maka berangkatlah utusan Qorun untuk mencari wanita pelacur dan dibawa kehadap Qorun.
“Hai wanita pelacur, maukah kau kuberi uang 1000 dinar dan 1000 dirham? Kemudian aku akan memberimu kedudukan dan aku kumpulkan kau dengan istri-istriku?”
Dengan senang hati si pelacur menjawab, “Tentu! Aku sangat senang menerimanya.”
“Tetapi tidak begitu saja kau mendapatkannya. Ada syarat yang harus kau lakukan. Besok, kau harus mengaku di depan umum bahwa kau telah berbuat zina dengan Nabi Musa. Sanggup?”
“Pasti sanggup. Kenapa tidak?”

KEESOKAN harinya Qorun mengumpukan orang-orang Bani Israil di lapangan yang luas, kemudian Qorun datang pada Nabi Musa dan berkata “Wahai Nabi Musa. Saat ini orang-orang Bani Israil sedang menunggumu untuk menerima nasehat dan pengarahan tentang peraturan Alloh.”
Nabi Musa pun bergegas menuju lapangan dan berseru, “Wahai Bani Israil! Barang siapa yang mencuri maka ia akan dipotong tangannya, barang siapa yang menuduh berzina tanpa mendatangkan saksi, hukumannya dicambuk 80 kali, bila ada bujangan atau gadis berzina masing-masing dicambuk 100 kali, bagi yang pernah menikah diranjam dengan batu sampai mati bila berbuat zina.”
“Hai Musa ! Bagaimana bila yang berbuat zina itu engkau sendiri? Apakah diranjam juga?” tanya Qorun.
“Walaupun aku sendiri yang berbuat zina tetap harus diranjam.”
“Hai Musa, ketauhilah! Orang-orang Bani Israil telah mengetahui perbuatanmu, ternyata engkau telah berbuat zina dengan seorang pelacur.”
“Jangan menuduhku sembanrangan! Panggil perempuan itu kemari.”
Qorun memanggil perempuan itu, ”Hei kau. Majulah ke depan!” Perempuan itu maju kedepan. “Musa, ini dia orangnya”
Musa menatap perempuan itu dengan tajam, ”Hai perempuan, demi Dzat yang telah menurunkan Taurot, aku bertanya kepadamu dan kamu harus menjawab dengan jujur. Apakah engkau telah berbuat zina denganku?”
Hati wanita pelacur itu bergetar mendengar perkataan Nabi Musa. Ia tak kuasa berbohong. Alloh telah membuka hatinya sehingga ia kembali dapat berfikir dengan akal sehatnya, dalam hati ia berkata,”Aku telah mempunyai niat buruk terhadap seorang utusan Alloh demi mendapatkan kesenangan dunia. Jika aku menyesali perbuatanku ini dan aku bertaubat kepada Alloh, aku yakin Alloh pasti akan mengampuniku”
“Demi Alloh, aku tidak berbuat zina dengan Nabi Musa! Tetapi Qorunlah yang telah membayarku untuk berbuat seperti ini”. Sontak Qorun dan pengikutnya terkejut.
Demi mendengar penuturan si pelacur Nabi Musa bersujud dan menangis kepada Alloh. Nabi Musa terharu dengan upadayanya Alloh terhadap orang-orang yang berniat menjatuhkannya. “Ya Alloh, kalau memang aku benar-benar utusanMu maka murkalah Engkau. Karena diriku telah dipermalukan oleh Qorun. Qorun yang selama ini kusaksikan baik ternyata telah menghianatiku”
Kemudian Alloh menurunkan wahyu kepada Nabi Musa yaitu Alloh memerintahkan bumi supaya taat dengan perintah Nabi Musa. Nabi Musa berkata,”Wahai orang-orang Bani Israil! Sesungguhnya Alloh mengutusku terhadap Qorun seperti Alloh mengutusku terhadap Fir’aun. Maka barang siapa yang ingin bersama Qorun tetaplah bersamanya. Dan barang siapa yang ingin tetap bersamaku jauhilah dia!”
Akhirnya semua orang menjauhi Qorun kecuali dua orang. Saat itulah Nabi Musa membuktikan bahwa bumi memang diperintahkan oleh Alloh untuk taat pada perintahnya. “Wahai bumi! Telanlah Qorun bersama pengikutnya!”
Bumipun langsung menelan mereka hingga sebatas kaki. Qorun berusaha lari namun bumi telah mencekeram kakinya, ia pun berteriak,”Hai Musa, maafkan aku! Selamatkan aku!”
Dengan tidak menghiraukan Qorun, Nabi Musa kembali memerintahkan bumi untuk menelan Qorun, “Wahai bumi! Telanlah mereka!”
Lalu bumi menelan mereka sebatas pusar. Begitu seterusnya sampai sebatas leher. Sambil merintih, Qorun terus memohon ampun diiringi sumpah agar Nabi Musa mau mamaafkannya. Namun Nabi Musa tidak menoleh sedikitpun kepada Qorun. Akhirnya bumi menelan sedikit demi sedikit hingga seluruh tubuh mereka.
Setelah kejadian itu orang-orang Bani Israil ribut membicarakn harta kekayaan Qorun yang ditinggalkannya. “Aah, ini semua kan kesengajaan Nabi Musa mendoakan Qorun agar disiksa oleh Alloh, karena Nabi Musa ingin mewarisi dan menguasai istana-istana dan harta kekayaan Qorun”
Nabi Musa sangat marah mendengar perkataan mereka, lalu ia berdoa kepada Alloh, “Ya Alloh, benamkanlah semua harta kekayaan Qorun ke dalam perut bumi agar tidak menjadi fitnah kepadaku dan kepada orang-orang Bani Israil”
Sesaat kemudian terdengar suara keras bersamaan dengan amblasnya seluruh gedung Qorun, harta bendanya dan kekayaannya tanpa tersisa sedebupun.
Ternyata sehebat apapun kelebihan yang dimiliki manusia, bila ia kufur kepada Alloh, tidak melaksanakan perintahnya, dalam waktu singkat Alloh bisa membinasakan seluruh jiwa dan harta manusia, tanpa ada seorangpun yang bias mencegahnya.
Cerita ini popular di masyarakat, bahkan bila ada yang menemukan harta benda dalam tanah disebut harta karun. Itu Cuma istilah saja, bukan betul-betul harta Qorun Bani Israil.
********
SUMBER “TAFSIR KHOZIN”

perumpamaan amal

PERUMPAMAAN AMAL

Di sebuah desa terpencil, di tepi hutan di lembah yang hijau hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung di desa tersebut dan ramai dikunjungi baik dari penduduk setempat maupun dari desa lainnya. Diantara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan dagangannya yaitu kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Umar, Abu, Abbas.
KEGIATAN sehari-hari mereka adalah mencari kayu bakar di hutan lalu dijualnya ke pasar. Pekerjaan ini mereka lakukan tanpa pernah melirik pada pekerjaan lain, barangkali kodrat Ilahi sudah menentukan demikian. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lainnya, walaupun begitu ketiganya mempunyai perangai berbeda.
Umar berperangai sabar, tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras. Setelah Sholat Shubuh di saat matahari belum terbit, ia sudah pergi menjemput kedua temannya yang masih terlelap untuk mengajak pergi mencari kayu bakar. Abu, kadang mengerjakan sholat Shubuh kadang tidak. Abbas, adalah tipe pemalas yang susah bangun pagi. Kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena ia selalu beralasan,”Aku masih ngantuk nih. Duluan saja, nanti aku akan menyusul.”
Umar memperlihatkan rasa kasih sayang kepada semua orang. Ia sangat menyayangi saudara dan kedua orangtuanya. Ia juga menyayangi orang-orang di sekililingnya. Ia akan segera membantu mereka yang perlu bantuannya. Temannya, Abu, sikapnya biasa-biasa saja. Ia tidak terlalu antusias dengan lingkungannya. Jika ia di ajak Umar untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi membantu. Tapi Abbas, adalah pemuda yang cuek. Ia merasa tidak harus banyak membantu orang lain, karena menurutnya ia adalah orang miskin yang perlu bantuan orang lain juga. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.
Begitulah, ketiga sahabat itu memang beda, walaupun begitu tetap saja mereka selalu bersama. Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan di sebelah barat dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang biasa mereka dapatkan.
Seperti biasa setelah Sholat Shubuh, hari masih gelap, Umar menjemput kedua temannya. Kemudian ketiganya berangkat menuju hutan sebelah barat. Perjalanan kali ini cukup jauh, harus melewati sungai, lembah, dan bukit-bukit terjal di pegunungan. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu bakarnya. Kemudian mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya.
Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai dengan petir yang bersahutan. Ketiganya sangat bingung dan ketakutan, mereka lalu berlari mencari tempat berteduh.
Umar melihat sebuah gua, kemudian ia berteriak kepada kedua temannya untuk berteduh di sana. Mereka pun masuk ke dalam gua yang gelap gulita itu. Di dalam gua, mereka tidak melihat apa-apa di sekelilingnya. Seakan-akan mata mereka buta. Ketiganya pun berjalan perlahan. Tiba-tiba mereka menginjak benda-benda halus licin seperti kerikil. Bersamaan dengan itu mereka di kejutkan dengan sebuah suara yang menggema ke seluruh ruangan gua. “Siapa yang mengambil akan menyesal. Siapa yang tidak akan mengambil akan menyesal.”
Ketiganya mendengar suara itu berulang-ulang hingga lama-lama menghilang. Kemudian Umar, Abu dan Abbas memutar otaknya untuk mencari keuntungan dari suara gaib itu. “Apakah yang akan di ambil?” Ada apa di dalam gua ini?” begitu pikir mereka. Tetapi mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.
Umar berkata dalam hatinya,”Kalau saya ambil, saya akan menyesal, kalau tidak saya ambil, saya juga akan menyesal. Ah, lebih baik ambil saja yang banyak.” Ia pun langsung memenuhi semua kantong baju dan celana dengan kerikil-kerikil itu.
Abu pun berpikiran sama, tapi ia hanya mengambil kerikil-kerikil itu segenggam. Sebaliknya, Abbas malah tidak mau mengambil barang sedikitpun. “Kalau sama-sama menyesal lebih baik tidak aku ambil” pikirnya.
Ketiganya pun membisu. Mereka masih ketakutan. Kemudian Umar mengajak kedua temannya untuk keluar dari gua. Mereka pun berlari keluar. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari gua. Dengan napas terengah-engah akhirnya mereka berhenti. Tidak terasa ternyata hujan juga sudah reda. Ketiganya lalu ingin membuktikan apa sebetulnya yang telah mereka ambil dari gua. Betapa terperanjatnya mereka bertiga ketika mengetahui bahwa kerikil-kerikil itu ternyata adalah berlian!!.
Umar sudah mengantongi banyak berlian merasa menyesal,”Waduh! Kalau saja aku tahu ini berlian, aku akan mengambilnya lebih banyak lagi. Kalau perlu akan kubuka bajuku untuk mengantongi berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya.” Abu juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Sedangkan Abbas, tubuhnya langsung lemas ketika mengetahui kedua temannya mendapat berlian. Ia sendiri tidak mendapat apa-apa. “Ohh, kenapa tadi aku tidak mengambil barang sedikit saja” ia pun jatuh pingsan dengan sejuta penyesalan.
Setelah Abbas siuman, ketiganya bersepakat untuk mendatangi gua itu kembali. Dengan semangat, Abbas langsung mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh Umar dan Abu. Ketiganya berharap begitu mereka sampai di gua kembali mereka akan mengambil berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya. Tapi, setelah mereka sampai di sana ternyata mulut gua sudah tertutup dengan sebuah batu besar. Mereka berusaha untuk membukanya tapi sia-sia. Mereka pun pulang dalam keadaan menyesal karena tidak dapat memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.
Bagitulah gambaran pengamalan manusia di dunia. Dan buah dari pengamalan itu kelak akan diperoleh di akhirat. Berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Di hari pembalasan semua manusia akan menyesal demi melihat pahala yang diberikan Alloh begitu banyak. Yang beramal banyak akan menyesal kenapa ia tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya.
Gua menggambarkan dunia di mana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun tidak beramal sama sekali sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan gua yang tertutup menggambarkan kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.
Rosululloh SAW telah bersabda :
“Tidak ada dari seseorang yang telah mati kecuali dia akan menyesal. Sahabat nabi bertanya: mengapa dia menyesal wahai Rosululloh? Nabi Menjawab: Jika dia orang yang beramal baik, dia akan menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (ketika di dunia), dan jika dia orang yang beramal jelek, dia menyesal mengapa tidak mencabut (bertaubat) atas amal jeleknya (ketika di dunia).”

SUMBER : HR TIRMIDZI DAN HR BAIHAQI

kisah tsa'labah

KISAH TSA'LABAH

Siang itu Rasululah sedang sholat berjama’ah di masjid bersama para sahabat beliau. Diantara sederetan para sahabat yang makmum di belakang Rasulullah, nampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dengan berpakaian lusuh. Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasululah yang tekun beribadah.
SETELAH Rasulullah menyelesaikan sholat, sahabat berpakaian lusuh itu segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu. Rasulullah menegurnya, “Tsa’labah!... Mengapa engkau tergesa-gesa pulang? Tidakah engkau berdoa terlebih dahulu? Bukankah tergesa-gesa keluar dari masjid adalah kebiasaan orang-orang munafik?”
Tsa’labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh Rasulullah, tetapi apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada Rasulullah,
“Wahai Rasululah.... Kami hanya memiliki sepasang pakaian untuk sholat dan saat ini istriku di rumah belum melaksanakan sholat karena menunggu pakaian yang aku kenakan ini. Pakaian yang hanya sepasang ini kami pergunakan sholat secara bergantian. Kami sangat miskin. Untuk itu, Wahai Rasul.... jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Allah menghilangkan semua kemiskinan kami dan memberi rejeki yang banyak.”
Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa’labah, lalu beliau berkata,
“Tsa’labah sahabatku..., engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit, itu lebih baik daripada engkau bergelimang harta tetapi engkau menjadi manusia yang kufur”.
Nasehat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa’labah, karena sesungguhnya yang ada dalam benaknya adalah ia sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan. Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah memohon doa kepada Rasulullah, karena doa seorang utusan Allah pasti didengar Allah. Itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa’labah, hingga keesokan harinya ia kembali menemui Rasulullah dan memohon agar beliau mau medoakannya agar menjadi orang kaya.
Rasulullah kembali menasehati, “Wahai Tsa’labah.. Demi Dzat diriku berada di tanganNya. Seandainya aku memohon kepada Allah agar gunung Uhud menjadi emas, Allah pasti mengabulkan. Tetapi apa yang terjadi jika gunung Uhud benar-benar menjadi emas, masjid-masjid akan sepi!. Semua orang akan sibuk menumpuk kekayaan dari gunung itu! Aku khawatir jika engkau menjadi orang kaya, engkau akan lupa beribadah kepada Allah..”
Tsa’labah terdiam mendengar nasehat Rasulullah namun dalam hatinya terkecamuk,
“Aku mengerti Rasulullah tidak mau mendoakan karena beliau sayang kepadaku. Beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya, aku akan menjadi golongannya orang-orang yang kufur. Tetapi aku tidak seburuk itu, justru dengan kekayaan yang kumiliki aku akan membela agama ini dengan hartaku...”
Akhirnya Tsa’labah pulang. Ia merasa malu apabila terus memaksa Rasulullah agar mau mendoakannya. Namun keesokan harinya ia tidak kuasa menahan dorongan hatinya untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan yang kian menghimpitnya. Ditemuinya Rasulullah, ia memohon untuk yang ketiga kalinya agar Rasulullah mau mendoakannya. Kali ini Rasulullah tidak bisa menolak keinginan Tsa’labah, beliau mengadahkan tangan ke langit... “Ya Allah... Limpahkanlah rejekiMu kepada Tsa’labah”
Kemudian Rasulullah memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada Tsa’labah. “Peliharalah kambing ini baik-baik....” pesan Rasulullah.
Tsa’labah pulang membawa kambing pemberian Rasulullah dengan hati yang berbunga-bunga. “Dengan modal kambing serta doa Rasulullah, aku yakin aku akan menjadi orang yang kaya raya”.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa’labah yang dulu miskin dan lusuh telah berubah menjadi orang kaya yang terpandang. Kambingnya berjumlah ribuan. Disetiap lembah dan bukit terdapat kambing-kambing Tsa’labah.
Pagi itu Tsa’labah berjalan-jalan meninjau kandang-kandang kambing yang sudah tidak sesuai dengan jumlah kambing yang terus berkembang biak.
“Hmm.. Aku harus pindah dari sini, mencari lahan yang lebih luas untuk menampung kambing-kambingku...”
Akhirnya Tsa’labah menemukan lahan yang luas di pinggiran madinah. Di sana ia membangun kandang-kandang baru yang lebih besar. Namun demikian perkembangan kambing-kambing Tsa’labah bagaikan air bah yang sulit di bendung. Kandang-kandang yang baru dibangun itu pun sudah penuh sesak oleh ribuan kambing. Dengan demikian setiap hari Tsa’labah disibukkan mengurus harta kekayaannya. Ia yang dulu setiap sholat lima waktu selalu berjamaah di masjid, sekarang hanya datang ke masjid pada waktu sholat Dzuhur dan Ashar saja.
Kini kandang-kandang yang baru dibangun Tsa’ labah di pinggiran Madinah sudah tidak lagi memenuhi syarat. Maka ia memutuskan untuk mencari area yang lebih luas lagi. Tentu saja area yang masih sangat luas itu berada jauh di luar Madinah. Tsa’labah sudah tidak memikirkan lagi bagaimana ibadahnya bila jauh dari Madinah. Kepalanya sudah dipenuhi dengan hubbuddunya, hingga ia datang ke masjid hanya seminggu sekali yaitu pada waktu sholat Jum’at. Dengan semakin derasnya harta yang mengalir dirumah Tsa’labah, kini ia lebih senang tinggal dirumah daripada jauh-jauh datang ke masjid, bahkan sholat Jum’at pun ia tidak datang ke masjid..!
Sampai Rasulullah bertanya-tanya, “Wahai sahabatku... sudah sekian lama Tsa’labah tidak kelihatan di masjid. Tahukah kalian bagaimana keadaannya sekarang?”
“Wahai Rasulullah... Tsa’labah sudah menjadi orang kaya. Lembah-lembah di Madinah maupun diluar Madinah, telah penuh sesak dengan kambing-kambing Tsa’labah...”
“Benarkah? Mengapa ia tidak pernah menyerahkan shodakohnya sedikitpun?”
Setelah Allah menurunkan ayat tentang kewajiban zakat. Rasulullah mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat. Seluruh umat Islam di Madinah yang hartanya dipandang sudah nishob zakat didatangi, tak terkecuali Tsa’labah pun mendapat giliran. Kedua utusan Rasulullah membacakan ayat zakat dihadapan Tsa’labah. Kemudian setelah dihitung dari seluruh harta kekayaannya ternyata memang banyak harta Tsa’labah yang harus diserahkan sebagai zakat. Tak disangka, Tsa’labah mukanya berubah merah, ia berang...
“Apa-apaan ini! Kalian mengatakan ini zakat..! Tetapi menurutku ini lebih tepat disebut upeti! Pajak! Sejak kapan Rasulullah menarik upeti! Hahh..?! Aku bisa rugi! Kalian pulang saja. Aku tidak mau menyerahkan hartaku..!”
Kedua utusan Rasulullah kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan semua perbuatan Tsa’labah. Beliau bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin namun setelah kaya ia telah terpengaruh dengan harta kekayaannya.
“Sungguh celaka Tsa’labah! Celakalah ia!”
Kemudian Allah menurunkan ayat 75 dalam surat At Taubah, tentang ciri-ciri orang munafik.
Ayat itu segera menyebar ke seluruh muslimin di Madinah, hingga ada salah seorang kerabat Tsa’labah yang datang memberitahunya..” Celakalah engkau Tsa’labah! Allah telah menurunkan ayat karena perbuatanmu!”
Tsa’labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama memperbudaknya. Kini ia bergegas menghadap Rasulullah dengan membawa zakat dari seluruh hartanya. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa kecuali hanya sepatah kata, “Sebab kedurhakaanmu, Allah melarangku untuk menerima zakatmu!”
Rasulullah mengambil segenggam tanah lalu ditaburkan diatas kepala Tsa’labah...“Inilah perumpamaan amalanmu selama ini... sia-sia belaka! Aku telah peintahkan agar engkau menyerahkan zakat, tetapi engkau menolak. Celakalah engkau Tsa’labah!”
Tsa’labah berjalan lunglai kembali kerumahnya. Hari-hari dalam hidupnya hanya dipenuhi dengan penyesalan yang tiada arti. Sampai suatu hari terdengar kabar Rasulullah telah wafat, ia semakin bersedih karena taubatnya tidak diterima oleh Rasulullah hingga beliau wafat.
Tsa’labah mencoba mendatangi khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah. Ia datang dengan membawa zakatnya. Apakah Abu Bakar menerimanya? Abu Bakar hanya berkata, “Rasulullah saja tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku menerima zakatmu?”
Demikian pula di jaman kekhalifahan Umar bin Khattab, Tsa’labah mencoba menyerahkan zakatnya. Umar pun tidak mau menerima sebagaimana Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerima zakatnya. Bahkan sampai khalifah Utsman bin Affan juga tidak mau menerima zakat Tsa’labah karena Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakatnya.
Kehidupan yang hina dan penuh kemurkaan Allah telah menimpa seorang sahabat Rasulullah yang telah tenggelam di dalam gelimang harta hingga menyeretnya ke lembah kemunafikan. Ia telah melalaikan kewajibannya. Ia telah mengingkari janji-janjinya. Ia telah melecehkan kemuliaan Allah dan RasulNya, sehingga membuahkan penderitaan yang kekal abadi di dalam neraka.***

HR “IBNU JARIR”
DALAM TAFSIR IBNU KATSIR